‎5 Bulan Gaji Tak Dibayar, P3K Parwatu SMPN 8 Menjerit: “Kami Juga Punya Keluarga yang Harus Diberi Makan”

Nasib memilukan dialami para tenaga P3K Parwatu di SMPN 8 Payakumbuh. Sudah lima bulan lamanya mereka disebut belum menerima gaji, sementara pekerjaan tetap berjalan seperti biasa tanpa henti. Di tengah tuntutan hidup yang semakin berat, para pekerja kecil di lingkungan sekolah itu kini hanya bisa menahan kecewa sambil berharap ada perhatian nyata dari Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh dan Pemerintah Kota Payakumbuh.

‎Yang lebih menyakitkan, mereka yang belum dibayar itu bukan pejabat dengan fasilitas lengkap atau orang-orang bergaji besar. Mereka adalah petugas perpustakaan, penjaga sekolah, security, dan operator sekolah — orang-orang yang setiap hari menjaga sekolah tetap hidup dan berjalan.

‎Mereka datang pagi saat gerbang masih terkunci. Mereka memastikan lingkungan sekolah aman, data sekolah berjalan, administrasi selesai, hingga kebersihan dan ketertiban tetap terjaga. Namun ironisnya, ketika kewajiban mereka dituntut penuh, hak mereka justru seperti dianggap tidak penting.

‎Lima bulan tanpa gaji bukan sekadar angka. Ini adalah penderitaan panjang yang perlahan menghancurkan ekonomi keluarga kecil para pekerja tersebut. Ada yang harus berutang demi membeli beras, ada yang menunggak cicilan, bahkan ada yang terpaksa menahan malu karena belum mampu memenuhi kebutuhan anak-anak mereka.

‎“Setiap hari kami tetap bekerja. Tidak pernah kami tinggalkan tugas. Tapi kenapa hak kami seperti dibiarkan menggantung?” ungkap salah seorang pekerja dengan nada kecewa.

‎Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di Kota Payakumbuh. Di saat pemerintah terus berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan, justru orang-orang yang menopang jalannya sekolah malah dibiarkan berjuang sendiri tanpa kepastian hak.

‎Publik pun mulai mempertanyakan ke mana sebenarnya keberpihakan pemerintah terhadap tenaga pendukung pendidikan. Jangan sampai slogan kesejahteraan hanya indah di atas kertas, sementara di lapangan masih ada pekerja sekolah yang harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk menerima hak dasar mereka sendiri.

‎Yang paling menyedihkan, para tenaga P3K ini tetap memilih bertahan bekerja meski kondisi ekonomi mereka semakin terhimpit. Mereka tetap menjaga sekolah, tetap mengurus administrasi, tetap menjalankan tugas keamanan, dan tetap melayani kebutuhan pendidikan dengan penuh tanggung jawab. Namun balasan yang diterima justru ketidakjelasan.

‎Jika memang ada persoalan administrasi, anggaran, atau proses pencairan, masyarakat menilai seharusnya pihak terkait segera terbuka dan memberikan kepastian. Sebab diamnya pihak berwenang hanya melahirkan rasa kecewa yang semakin dalam.

‎Bagaimana mungkin pemerintah berharap pelayanan pendidikan berjalan maksimal jika orang-orang yang bekerja di balik layar justru harus memikirkan cara membeli kebutuhan makan untuk keluarganya sendiri?

‎Ini bukan sekadar soal keterlambatan gaji. Ini soal kemanusiaan. Soal rasa keadilan. Soal bagaimana negara dan pemerintah daerah memperlakukan pekerja kecil yang selama ini setia menjalankan tugas tanpa banyak bicara.

‎Kini masyarakat menunggu langkah cepat dan tegas dari Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh. Jangan sampai persoalan ini terus berlarut hingga melukai kepercayaan para pekerja terhadap pemerintah.

‎Karena di balik seragam para penjaga sekolah, operator, petugas perpustakaan, dan security itu, ada keluarga yang setiap hari menunggu nafkah pulang ke rumah. Dan sampai hari ini, setelah lima bulan berlalu, hak mereka masih belum juga dibayar.

(Red,Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *