Persatuan Adat Minangkabau Ditegaskan dari Sungai Pagu: Niniak Mamak Lintas Luak Konsolidasi, Bukan Sekadar Seremonial


Sungai Pagu — Di tengah derasnya arus perubahan sosial yang kerap menggerus nilai-nilai lokal, denyut persatuan adat Minangkabau justru kembali menggema dari jantung nagari. Halal Bihalal Suku Kampai yang digelar di Rumah Tinggi Inyiak Majolelo bukan sekadar ajang temu kangen, melainkan panggung konsolidasi serius para niniak mamak lintas luak.

Kehadiran tokoh adat dari berbagai wilayah — mulai dari Luak Limo Puluah, Tanah Datar, Agam hingga Banda Sapuluah — menjadi sinyal kuat bahwa jaringan adat Minangkabau masih hidup, terhubung, dan siap menjaga marwahnya. Dari Luak Limo Puluah, rombongan dipimpin Niniak Datuak Bandaro bersama Datuak Godang Sabatang dan Datuak Simarajo. Dari Tanah Datar hadir di bawah komando Datuak Cahayo Limpati, sementara dari Agam dipimpin Niniak Datuak Nan Lawe, dan Banda Sapuluah diwakili Datuak Rajo Bukik.

‎Tak sekadar hadir, para niniak mamak ini membawa satu pesan yang sama: adat tidak boleh hanya dikenang, tetapi harus dijalankan dan dipertahankan secara kolektif.

Sebagai tuan rumah, Inyiak Majolelo bersama Bendang Nan Barampek — Datuak Rajo Alam Nagari, Datuak Saidano, Datuak Bando Putiah, dan Datuak Rajo Kobo — menyambut tamu dengan penuh kehormatan. Turut hadir Sekretaris KAN Datuak Rajo Imam Nagari serta Ketua KAN Pasie Talang, Datuak Sutan Kayo, mempertegas legitimasi forum adat ini.

“Rumah gadang ini terbuka untuk dunsanak kito sadonyo. Kehadiran niniak mamak hari ini adalah kebanggaan sekaligus penguat persatuan adat yang harus terus kita jaga bersama,” tegas Inyiak Majolelo dalam sambutannya.

‎Namun yang paling mengemuka bukan sekadar kata sambutan, melainkan nada kekhawatiran yang tersirat: jika tidak dijaga, adat bisa tergerus oleh zaman.

Tampuak Tangkai Alam Minangkabau, Jufrizal Datuak Bandaro Kayo, menegaskan bahwa silaturahmi bukan hanya tradisi, melainkan fondasi utama keberlangsungan adat. “Dari sinilah persatuan adat dijaga dan diwariskan,” ujarnya.

‎Nada serupa disampaikan Datuak Godang Sabatang. Ia menekankan bahwa kekuatan adat tidak lahir dari simbol, melainkan dari kebersamaan nyata para pemangku adat. “Ketika niniak mamak duduk basamo, di situlah kekuatan adat berdiri kokoh. Ini tanggung jawab bersama,” katanya.

Sementara itu, Niniak Datuak Nan Lawe mengingatkan bahwa persatuan bukan pilihan, melainkan nafas kehidupan adat itu sendiri. “Selama itu dijaga, adat akan tetap hidup lintas generasi,” tegasnya.

Pernyataan paling lugas datang dari Datuak Paduko Tuan yang menyoroti pentingnya momentum ini sebagai benteng terakhir adat. “Adat akan tetap tegak jika kita berdiri bersama. Momentum ini menjadi bukti bahwa persatuan niniak mamak tidak akan pernah pudar.”

‎Dihadiri sekitar 50 niniak mamak, kegiatan ini menjelma menjadi lebih dari sekadar Halal Bihalal. Ia adalah forum strategis — tempat merumuskan kembali arah, memperkuat ikatan, dan memastikan bahwa adat Minangkabau tidak sekadar bertahan, tetapi tetap relevan di tengah tantangan zaman.

Pesannya jelas: ketika para penjaga adat masih mau duduk bersama, maka Minangkabau belum kehilangan arah. Namun jika konsolidasi seperti ini berhenti, maka yang terancam bukan hanya tradisi — melainkan identitas itu sendiri.

‎wartawan : Moli nadri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *